seperti menyelam ke tempat yang dalam melewati beribu cahaya lalu sampai ke tempat itu di mana aku menemukan sebuah kenyamanan yang sangat ketika sebuah titik kecil, seperti inti atom, indah di tempatnya tidak gemerisik, tetap tenang seperti air sungai di malam hari
aku menyelam semakin dalam ada sesuatu yang menarik, gravitasimu begitu besar dan aku terus terbawa tapi tak sampai dalam karena aku terlanjur menyadari bahwa sebuah atom positif dan atom positif tak mungkin menyatu terlihat begitu dekat akrab dan hangat tetapi kita tak kan pernah bisa menyatu tak ada kata overlap
betapa sering aku menyelam walau tak ada ikan, tak ada karang warna-warni yang kulihat hanyalah sebuah keindahan abstrak yang tampak oleh orang lain jika mereka juga menyelam sama sepertiku, mereka ingin menyelam lebih jauh menemukan kedamaianmu di dekatmu dan di balik hatimu
ada keindahan yang tak terungkapkan jikalau saja kau bisa melihatnya, persis seperti apa yang kulihat pasti kau ingin menyelam terus dan tak ingin ke permukaan karena keindahannya begitu menyilaukanmu walau itu berarti merobek hatimu dan memecah belah perasaanmu tapi aku ingin menyelam lebih jauh karena gravitasimu begitu besar
andai aku bisa menyelam ke tempat yang lebih dalam mungkin kini aku sedang terpikir tentang bayangmu sesuatu yang indah bukan ciptaan yang biasa, karena kau amat istimewa dan tetap walau aku tidak menyelam sedalam yang kuinginkan, tetaplah bayangmu yang memenuhi benakku terus menerus seperti itu
kalau boleh aku ingin sekali lagi terakhir kali atau mungkin beberapa kali sebelum terakhir aku ingin menyelam lebih jauh lagi menemukan sesuatu yang baru karena setiap aku menyelam jauh ke dalam jiwamu, itu menenangkan batinku...
-by: wieke, yang sedang belajar kimia, 12 menit sebelum tengah hari
Hari ini, kebanyakan seminar"nya. Stok permen kopiko gw abis, jadi tadi sering ketiduran deh. Ada wakil ketua KPK juga. 2009 juga disuruh deklarasi anti-nyontek. Ya baguslah akhirnya ada ketegasan semacam itu juga dari pihak yang berkuasa penuh.
Tadi juga dikenalin banyak banget unit mahasiswa. Wahh gw jadi bingung, antara apresi atau iso, antara bulutangkis atau SEF (semacam english club)
Terus... sebenernya yang paling signifikan adalah.... gw baru sadar, kalo gw itu sangat gampang menyukai orang. Gawat, oh tidak.
Haduh, gw rasa gw harus menjaga mata ini, supaya ga lama" ngeliat sosok lawan jenis. Apalagi senior, dan tidak tertutup kemungkinan angkatan gw sendiri.
written by Kodok,
maaf terlalu ceplas-ceplos, hanya ingin menulis dengan penuh kejujuran
Gw baru menonton grey's anatomy, episode 3 season 3.
Ceritanya ada anak kecil gitu, yang merasa dirinya superhero karena dia gak merasa sakit sedikitpun kalo diapa-apain (dipukul, tangannya disteples, dll).
Sampai akhirnya dia dibawa ke rumah sakit dan pas dicek ternyata luka di perutnya udah parah banget karena saking sering dipukulin tapi dia ga ngerasa sakit.
Lalu gw berpikir, ternyata rasa sakit itu diciptakan bukan buat efek negatif aja. Rasa sakit itu sebagai tanda kalo ada sesuatu yang salah, sesuatu yang harus diperbaiki. Kalo ga punya rasa sakit, koboy yang ditembak berkali" sama musuhnya dan ga ngerasa sakit. Dia merasa ga ada yang salah sampe tiba" dia pingsan karena udah kehabisan banyak darah.
Rasa sakit sebagai tanda kalo kita punya batasan. Supaya kita sadar, kalo batasan itu dilampaui terlalu jauh, bisa" kita K.O.
Pain is not always bad, it warns you, it makes you have more time to live
Just don't take too much pain, because you have a limit to survive
Gw jadi inget perkataan kakak gw waktu itu, udah lama banget. Dia kan sering ke salon buat treatment” gitu, macem wax, dll. Terus gw nanya, ngapain sih pake wax” an segala, kan sakit dsb. Terus dia bilang, kalo mo cantik tuh butuh pengorbanan. Lalu gw naikin alis tanda tidak setuju. Ah, cantik mah yang gampang” aja, yang alami. Tetapi gw lupa, ternyata gw juga terjebak dalam perawatan” seperti itu.
Gw memang ga ambil perawatan yang macem”, cukup facial aja. Karena memang wajah gw sensitif dan berjerawat sekaligus berkomedo, jadi sebulan sekali gw sempetin buat facial. Emang muka gw ga jadi cantik sih, yah biar muka enak dan bersih aja gitu. Namun… facial adalah perawatan yang menyakitkan. Jerawat” dipencetin gitu, komedonya dibersihin. Alat” nya menekan-nekan muka, menyeramkan, dan rasanya sakit naudzubillahi mindzalik. Mending kalo jerawatnya dikit, lah gw? Jumlahnya bersaing sama jumlah bintang” di langit. Sakit, perih, membuat gw tak jarang reflek menitikkan air mata. Belum lagi kalo mbak”nya tipikal pegawai teladan dan rajin. Semua jerawat tuh dipencetin tanpa terkecuali. Bikin gw ngamuk dan pingin nyakar” muka tuh mbak kalo udah selesai ntar.
Bukan cuma facial. Kalo mo langsing, atau setidaknya fit, mesti rajin olahraga, macem bersepeda, jogging, dll. Buat langsing mesti capek olahraga, mesti nahan nafsu makan yang besar banget, makan secukupnya. Kalo ga mau yang menyakitkan, kayak treatment di salon, butuh pengorbanan duit. Buat tampil oke, ngorbanin duit juga buat beli baju atau aksesoris lain.
Cantik butuh pengorbanan. Gw terhenyak dan seketika setuju dengan pernyataan itu. Tapi jangan salah. Bukan cuma cantik yang butuh pengorbanan. Semua yang baik” dalam kehidupan ini butuh pengorbanan.
Buat pinter dan berpengetahuan luas mesti usaha, banyak baca” buku. Atau hal sesimpel kebersihan kamar. Kalo mau nyaman di kamar tidur yang bersih, mesti ngalahin rasa males yang teramat besar, mesti capek nyapu, beresin barang” yang babalatak –bahasa sundanya berantakan-. (pengecualian buat yang kamarnya diberesin si mbak di rumah). Biar punya temen, harus ngatasin rasa malu” buat mulai pembicaraan atau sekedar nyapa duluan.
Buat mendapatkan yang baik” di hidup ini, udah bukan rahasia lagi, kalo memang kita harus berusaha, bekerja keras. Lantas kenapa masih ada orang” yang angan”nya jauh di ambang batas, yang ga menggapai cita-citanya? Padahal udah tau kalo kuncinya ya berusaha keras. Ya ga lain jawabannya karena rasa malas dan ga mau berkorban.
Semuanya butuh pengorbanan. Ga ada salahnya kan berkorban sedikit atau bahkan besar buat cita” atau impian. Dibanding kalo nerima” aja apa yang ada dan hidup dalam ketidakpuasan. Berusahalah dan semangat. Ga selalu gampang, tapi selalu akan berhasil kalo tekun.
Ada seorang teman yang selalu bilang. Berhasil atau nggaknya kita mencapai sebuah impian itu bukan tergantung apakah kita punya talenta atau berbakat, apakah kita dilahirkan jenius, atau dikasih anugerah lebih. Melainkan, usaha kita yang terus-menerus dan pantang menyerah lah yang bisa membuat kita mencapainya.
Ini tentang seberapa keras kita mau berusaha dan seberapa besar kita mau berkorban. Semua orang, kalo berusaha dan mau berkorban pasti sukses. Ga ada alasan buat menyerah sama keadaan. Gw emang belum termasuk orang” yang seperti itu, tapi gw dalam tahap berusaha kok. Satu yang sangat gw yakini adalah, pada akhirnya orang akan mendapatkan yang ia mau sesuai dengan usahanya. Berusaha sekeras mungkin supaya hasilnya sebesar mungkin (hmm kok jadi keinget yang ada di wc ya? Hehe)
Gw ga sepenuhnya setuju. Banyak orang susah di luar sana, dan kalo lo berprinsip seperti itu, tega bener.
Lebih baik tidak tahu di sini, lebih ke arah, tidak tahu untuk hal-hal yang dirasa kurang penting, yang kalo kita tau hal itu, keputusan" yang seharusnya kita ambil malah gak diambil, dan semacamnya.
Gw lebih baik ga tau soal apa kata orang tentang gw Lebih baik menutup mata akan kebisingan di luar sana (atau menutup telinga juga boleh)
Lebih baik, fokus ke kehidupan sendiri. Tetapin tujuan. Ga usah mikirin yang ga sevisi sama tujuan hidup. Hanya lurus. Lurus aja, ga usah tahu tentang macem-macem. Ga usah nambah beban pikiran.
Lebih baik tak tahu tentang hal" sepele yang ganggu pikiran, dan jalani hidup ini dengan tenang...
Mau tenang, mau senang, mau mencapai tujuan hidup.